UAS SKI “BUDAYA YANG DIANUT BANGSA INDONESIA PADA MASA SEKARANG”

 

Nama  : Tiara Agnesi Windari

NIM     : 18019019

 

UAS SKI “BUDAYA YANG DIANUT BANGSA INDONESIA PADA MASA SEKARANG”

 

A.  Pendahuluan

Belakangan ini, ada banyak kejadian-kejadian tidak terduga, mulai dari meningkatnya kasus covid-19 di Indonesia hingga membuat 5 organisasi kedokteran meminta pembatasan kegiatan masyarakat, hilangnya salah satu jurnal mantan presiden ke-5 Megawati Sukarno Putri dari situs jurnal Universitas Pertahanan, ditemukannya tindak plagiasi Rektor Unnes,  dan juga kritikan tajam  seorang anggota DPR, Andi Yuliani Faris dalam rapat anggaran. Kejadian-kejadian tersebut, membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di negara kita. Namun demikian, dibanding bertanya kenapa, kita justru harus menanyakan “bagaimana” hal tersebut terjadi dan apa yang melatarbelakanginya.

Terkait dengan pertanyaan “bagaimana” tersebut, tentunya akan ada beberapa kata kunci yang selanjutnya dapat dikaji dengan lebih mendalam. Yang pertama yaitu “pemikiran” dan “mindset” . Kedua kata tersebut merupakan kata yang sepintas mirip, tapi sebenarnya  berbeda. Pemikiran merupakan reaksi berpikir oleh otak yang menyebabkan adanya suatu pengertian baru, sedangkan mindset merupakan kumpulan pemikiran yang menjadi dasar seseorang dalam memandang sesuatu, dengan kata lain, mindset merupakan kesimpulan dari berbagai hasil pemikiran, hingga tercipta suatu sistem default yang nantinya akan diterapkan sebagai dasar untuk memproses berbagai hal . Dalam artikel singkat ini, peneliti memberikan ulasan lebih jauh terkait pemikiran dan mindset ini yang akan mengarah kepada budaya seperti apa yang dianut bangsa kita pada masa sekarang ini.

 

B.     Isi

Dalam buku How You Can Fulfill Your Potential yang ditulis oleh psikolog Carol Dwect, terdapat sebuah hal kedengaran sepele, tapi begitu penting yang bahkan tidak disadari oleh banyak orang, yaitu “mindset mempengaruhi bagaimana cara kita menjalankan hidup”. Dengan demikian, mindset yang buruk akan membuat pengambilan keputusan dan tindakan menjadi buruk pula. Jika kita kaitkan dengan kasus jurnal yang dibuat oleh mantan presiden, plagiasi, lonjakan covid yang diakibatkan aktifitas di luar yang tidak terkontrol dan juga ditemukannya sejumlah dana yang tidak jelas dalam rapat anggaran, jelas terdapat sebuah mindset yang harus di rubah di sana. Mindset tersebut antara lain mindset pesimis, ingin hasil instan tanpa berusaha dan meremehkan peraturan.

Mindset pesimis merupakan mindset, yang menurut Carol Dwect , termasuk dalam kategori fixed mindset, yang artinya merupakan mindset yang sudah tersedimentasi sehingga sangat sulit untuk diubah. Mindset ini merupakan mindset ini merupakan mindset yang “diajarkan” penjajah pada masa kolonial. Mengutip Alodoc, Lobus Frontal merupakan bagian yang berpengaruh terhadap pemrosesan kejadian. Pemrosesan kejadian tersebut, selanjutnya, oleh lobus frontal, akan diubah menjadi kesimpulan yang akan menjadi dasar untuk memproses hal selanjutnya. Mindset pesimis dahulu telah dibuktikan dengan fakta bahwa negara kita pernah terjajah dan sangat lemah untuk melawan. Pesimis di masa sekarang dapat dilihat dari ketakutan generasi muda untuk berusaha karena takut gagal, karena sudah banyak orang yang mencoba dan ternyata gagal juga. Adanya bukti bahwa kegagalan itu nyata, oleh Lobus Frontal di bagian Cerebrum kita nantinnya akan menghasilkan kesimpulan bahwa kita tidak perlu berusaha karena nantinya hanya akan ada kegagalan. Mindset ini benar-benar harus dirubah. Jika dikaitkan dengan kritik pada rapat anggaran yang disampaikan anggota DPR Andi Yuliani Faris terhadap, pejabat-pejabat yang tidak mau menggunakan hasil penelitian mahasiswa-mahasiswa dalam bidang inovasi teknologi dan lebih memilih menggelontorkan dana lebih banyak untuk studi yang sebenarnya sudah ada, kita dapat melihat bagaimana mindset pesimis bahkan dimiliki oleh orang-orang yang menggerakkan pemerintahan kita. Sikap pesimis ini secara tidak langsung “meremehkan” perkembangan  pendidikan kita.  Seperti yang dikatakan oleh Kasino Hadiwibowo, atau yang lebih akrab dipanggil Kasino Warkop, “Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur”.

Mindset yang ingin serba instan. Mindset ini merupakan lanjutan dari mindset pesimis. Karena tidak mau berusaha karena takut gagal, banyak orang memilih cara instan yang hasilnya jauh lebih menguntungkan, tapi tentu saja dampaknya dapat mengikis moral kemanusiaan dan kejujuran kita. Mindset serba instan ini merupakan cikal bakal korupsi yang banyak terjadi di negara kita ini. Kita pasti pernah dengar “urusan bisa diselesaikan dengan lebih cepat jika ada uang”. Dengan kata lain, mindset ini menyebabkan banyak orang tidak lagi mau berusaha, dan lucunya, kalimat “kalau ada yang mudah, kenapa harus yang susah?” yang biasanya kita jadikan motivasi untuk bekerja lebih efisien, disalahgunakan untuk memilih jalur yang salah. Mengutip lagi perkataan Kasino Hadiwibowo, atau yang lebih akrab dipanggil Kasino Warkop, “Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur”.

Mindset mengabaikan peraturan. Mindset ini merupakan mindset yang sudah tersedimentasi, yang dalam buku How You Can Fulfill Your Potential oleh Carol Dwect tadi, juga merupakan fixed mindset, artinya sangat sulit untuk diubah. Contohnya saat ada rapat, rapat tersebut akan dilakukan 1 jam dari jam yang sudah ditentukan, dan anehnya, kebiasaan ini membudaya dan kita bisa mengucapkannya sambil tertawa, “biasalah, jam karet” “gapapa, lagian yang lain juga belum pada datang”. Kalimat-kalimat tersebut merupakan bentuk pembiasaan terhadap pengabaian peraturan. Jika pada hal kecil kita bisa mengabaikannya, apalagi pada hal yang besar. Jika kita kaitkan pada lonjakan covid yang terjadi secara signifikan hingga menyebabkan 5 organisasi kedokteran menghimbau pemerintah untuk melakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), maka sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa pengabaian protokol kesehatan seperti tidak memakai masker dan berkumpul tanpa menerapkan social distancing, merupakan bentuk dari mindset mengabaikan peraturan.

Tiga fixed mindset tersebut, dalam buku karya Carol Dwect tadi, dapat diubah menjadi growth mindset, yang membuat diri kita semakin berkembang asal kita memiliki keyakinan. Menurut sains pun, Lobus Frontal dapat mengubah persepsi dan pengambilan keputusan apabila kita berusaha. “di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, kata-kata mutiara tersebut dapat menjadi motivasi agar mindset buruk yang kita miliki dapat diubah menjadi mindset yang lebih baik.

 

 

C.     Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya yang dimiliki oleh bangsa indonesia adalah “budaya mindset negatif”. Mindset tersebut dapat diubah jika ada kemauan dan keinginan untuk melihat berbagai hal dengan disertai moral dan memperhitungkan dampak yang akan dihasilkan. Meskipun awalnya mindset negatif tersebut merupakan mindset yang ditanamkan penjajah pada masa kolonial, yang artinya mindset tersebut sudah ada sangat lama sampai sangat sulit diubah, kita masih bisa melakukan perubahan. Ingatlah, di mana ada kemauan, pasti ada jalan.

 

D.    Daftar Pustaka

Alodoc. "memahami fungsi otak besar berdasarkan bagiannya". [daring] Tautan:                                             Https://www.alodokter.com/memahami-fungsi-otak-besar-berdasarkan-bagiannya (diakses pada 25 Juni 2021)


Dweck, Carol. 2016. What Having a “Growth Mindset” Actually Means. [daring] Tautan:                                     https://hbr.org/2016/01/what-having-a-growth-mindset-actually-means (diakses pada: 25 Juni 2021).


Dweck, Carol. Mindset: 2012. How You Can Fulfill Your Potential.New York: Constable & Robinson.


            







Komentar