SKI week 1; Korelasi ciri-ciri Masyarakat di Masa Berburu dan Mengumpulkan makanan dengan sistem teknologi, pengetahuan, kepercayaan, bahasa dan kesenian
Nama : Tiara Agnesi Windari
NIM : 18019019
Masa berburu dan mengumpulkan makanan terjadi pada zaman batu tua (paleolithikum), sekitar 600 ribu tahun yang lalu. Pada masa tersebut, manusia masih sangat bergantung pada Alam. Kondisi geografis pada masa ini masih cenderung liar dan berbahaya. Masih banyak hewan buas dan manusia masih belum tinggal menetap di suatu tempat karena ancaman alam yang masih liar tersebut. Jika ditilik dari segi psikologis, kondisi alam dan keadaan yang masih liar dan membahayaan pastinya membuat manusia tersebut masihlah primitif, manusia masih di dominasi oleh insting untuk berburu dan mengumpulkan makanan agar dapat bertahan hidup. Kondisi geografis tersebut juga berpengaruh pada sistem sosial, di mana membuat mereka harus hidup berkelompok agar dapat melindungi satu sama lain. Sistem budaya mereka masih sangat primitif, karena jika dikaitkan dengan sistem sosial mereka yaitu hidup berkelompok, mereka pastinya memiliki seorang pemimpin yang sangat dihormati. Penghormatan terhadap pemimpin tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan berbudaya mereka, misalkan saja mereka melakukan tarian tertentu sebagai bentuk penghormatan dan rasa kekompakan mereka. Kepercayaan mereka mungkin sudah ada, hanya saja belum sekompleks kepercayaan yang sekarang. Jika dikaitkan dengan kelompok mereka yang sudah memiliki pemimpin, kita dapat berasumsi bahwa mereka menganut kepercayaan untuk terus menghormati pemimpin mereka, meskipun pemimpin tersebut telah tiada dan digantikan dengan pemimpin yang baru.
Seluruh ciri-ciri masyarakat di masa berburu dan mengumpulkan makanan pada paragraf sebelumnnya dapat dikaitkan dengan sistem teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, kepercayaan, bahasa dan kesenian sebagai unsur kebudayaan. Pertama kita akan membahas dari sistem teknologi. Sistem teknologi masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan masihlah sangat sederhana. Berdasarkan periodisasi 600.000 tahun yang lalu, masyarakat pada masa ini masih hidup pada zaman batu tua. Pada zaman batu tua, masyarakat berburu menggunakan peralatan batu seadanya. Contohnya saja, untuk menangkap hewan buruan, mereka menggunakan kapak perimbas yang masih belum di haluskan sisi-sisinya.
Kedua, kita akan mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan. Dengan kondisi geografis yang masih sangat liar dan berbahaya, masyarakat di masa ini mendapatkan ilmu pengetahuan dari pengalaman mereka selama berburu dan mengumpulkan makanan. Para laki-laki dalam kelompok akan mendapatkan pengalaman tentang cara terbaik untuk menangkap hewan buruan ataupun melawan hewan buas. Sedangkan perempuan mungkin menemukan jenis tumbuhan baru yang dapat dijadikan makanan. Pengalaman adalah pengetahuan untuk masyarakat pada masa ini.
Ketiga kita akan mengaitkan dengan kondisi sosial. Pola kehidupan pada masa ini adalah berkelompok dengan satu pemimpin di tiap kelompok. Dengan adanya kelompok tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa kondisi sosial masyarakat pada masa itu sangatlah kuat dan erat. Mereka membagi tugas untuk menentukan siapa yang berburu dan siapa yang mengumpulkan makanan. Mereka juga berburu dengan beberapa orang untuk meminimalisir adanya ancaman selama perburuan. Mereka melindungi satu sama lain, karena itu, setiap orang dalam kelompok tersebut dapat saling melengkapi.
Keempat, Kepercayaan. Mereka memiliki pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan berganti seiring waktu. Pergantian tersebut dapat terjadi karena pemimpin tersebut sakit ataupun sudah meninggal. Untuk pemimpin yang sudah meninggal, masyarakat pada masa ini akan membuat makam batu. Makam batu tersebut terus diberi penghormatan, dan dipercaya dapat memberikan mereka perlindungan.
Kelima, bahasa. Mengingat mereka adalah kelompok yang solid dan saling melindungi satu sama lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pasti ada suatu bentuk komunikasi. Hal itu dapat berupa suara-suara dengan nada berbeda untuk menyatakan kondisi tertentu, atau gambar yang ditunjukkan dengan gerakan tangan ataupun ekpresi wajah agar anggota di kelompok tersebut dapat paham apa yang sedang terjadi.
Keenam, kesenian. Hidup berkelompok dan juga memiliki pemimpin pastinya membuat mereka memiliki kesenian. Kesenian tersebut dapat berupa gerakan-gerakan, tarian, maupun bunyi-bunyi yang disusun menjadi sebuah lagu. Kesenian tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkuat solidaritas antar anggota di dalam kelompok.
Komentar
Posting Komentar