KESIMPULAN DDF BAB 1 DAN 2

Filsafat. Mendengar kata itu saja, kebanyakan orang akan membayangkan pemikiran rumit dan juga tokoh-tokoh di zaman kuno. Tapi tahukah kamu, kalau ternyata filsafat itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? Di dalam essay ini, kita akan membahas 2 bab filsafat, yaitu tentang "Perkenalan pada filsafat" dan "Logika". 


Di bab pertama, kita akan dihadapkan tentang berkenalan dengan filsafat. Jika kita ingin berkenalan dengan filsafat, maka maka kita harus memulai dari sebuah definisi. Apa itu filsafat? Dan, mengapa filsafat begitu penting? Filsafat, menurut Plato, adalah upaya kita dalam mencari kebenaran asli dari sesuatu. Dengan demikian, satu kata yang dapat merepresentasikan filsafat adalah "keingintahuan". Nah, sekarang, jika kita bertanya kenapa filsafat begitu penting, jawabannya adalah karena keingintahuan itu sendiri. Manusia dikelilingi oleh banyak hal yang kadang berada di luar pengetahuannya. Filsafat ada untuk mengatasi ketidaktahuan itu. Seperti kata pepatah, "seseorang yang akan menang di medan perang, bukanlah orang yang memiliki pedang, melainkan orang yang memiliki pengetahuan". Filsafat adalah langkah pertama kita mendapatkan pengetahuan. Dari situ, akan timbul pertanyaan tentang, bagaimana cara mempraktikkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari? Caranya mudah, cukup dengan mengetahui cabang-cabang filsafat. Ada banyak sekali cabang dalam filsafat, yang termudah adalah filsafat moral. Sebagai contoh, jika kita sedang dalam krisis keuangan tapi tetap butuh biaya untuk transportasi ke kampus, maka nebeng dengan teman bisa jadi pilihan. Eitt, ini belum masuk filsafatnya ya, ini baru awal untuk tau bagaimana cara filsafat itu bekerja. Nah, dalam filsafat moral, "moral" adalah objek pencarian pengetahuan kita. Mari kita ibaratkan seperti ini, jika kita yang jadi teman yang "ditebengi" sekali-kali, mungkin kita akan membantu dengan senang hati. Tapi bagaimana jika ditebengi berkali-kali? Mungkin kita bisa kesal, iya kan? Nah, di situlah filsafat moral terlihat. Dalam filsafat moral, kita menghubungkan diri kita, orang yang berkaitan dengan kita, dan mengaitkannya dengan nilai moral. "Apakah bermoral nebeng gratis dengan teman setiap hari? Tidakkah itu menyusahkan? Dan jika kita sudah menyusahkan orang lain, apakah itu bermoral?"


Di bab kedua, kita akan membahas tentang logika. Logika termasuk dalam seni berdebat. Di dalam logika, cara berpikir lurus dan tepat sangat dibutuhkan. Ada pepatah yang mengatakan "cara kita berpikir tercermin dari cara kita berbicara". Pepatah tersebut benar-benar merepresentasikan makna logika yang sebenarnya. Dalam kehidupan sosial, kita seringkali diharuskan memberikan pendapat. Memberikan pendapat, berarti menyuarakan pemikiran kita. Menyuarakan pemikiran, jika tidak disertai logika, dapat menyebabkan kekeliruan, yang dikenal dengan "fallacy". Ada banyak jenis fallacy, yang paling sering kita temukan adalah fallacy jenis "Ad Hominem" di mana, jika seseorang sudah tidak bisa melawan pemikiran orang lain dengan pemikirannya sendiri, maka dia akan menyerang hal pribadi lawan bicaranya agar kalah. Contoh kalimat yang dapat mengindikasikan adanya fallacy ad hominem yaitu: "Aku kan lebih pintar, punya gelar lagi. Kamu yang miskin dan nggak sekolah ini jangan sok benar ya!" Di kalimat tersebut, kata "miskin" dan "tak sekolah" adalah bentuk penyerangan terhadap latar belakang lawan bicara.


Dari dua bab tersebut, dapat kita simpulkan bahwa filsafat sebenarnya sangatlah penting. Filsafat mengarahkan kita pada nilai-nilai kebaikan. Filsafat tidak hanya memberikan kita ilmu pengetahuan, tapi juga memberikan kita petunjuk tentang bagaimana cara untuk lebih menjadi "manusia".

Komentar